Beberapa fungsi dari upacara tersebut berkaitan dengan upacara yang dilaksanakan sebagai alat pendidikan, upacara sebagai sarana untuk berdoa, upacara sebagai sarana pemberitahuan, dan upacara sebagai peringatan (pengingat).
----
Masa kelahiran dalam adat Suda terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara memelihara tembuni; (2) Upacara nenjrag bumi; (3) Upacara puput puseur; (4) Upacara ekah; (5) Upacara nurunkeun; (6) Upacara opat puluh dinten; (7) Upacara cukuran; (8) Upacara turun taneuh.
1. Upacara Memelihara Tembuni (memelihara tali pusar)
Tembuni dipandang sebagai saudara bayi karena itu tidak boleh dibuang sembarangan, tetapi harus diadakan upacara sewaktu menguburkannya atau menghanyutkannya ke sungai. Kedua cara dalam memelihara tembuni tersebut memiliki maksud diantara masing-masingnya, yaitu; tembuni yang dihanyutkan ke sungai maksudnya adalah agar anak tersebut menjadi orang yang berani mengarungi hidup, banyak pengalaman dan tidak picik. Sedangkan tembuni yang dikuburkan maksudnya adalah agar anak tersebut nantinya walaupun berada di tempat yang jauh atau merantau tidak lupa akan kampung halamannya. Hal tersebut dilakukan agar mendapat perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa serta ibu dan bayi tersebut selamat tak kurang suatu apa pun. Ada kepercayaan bahwasannya tembuni yang dikubur atau yang dihanyutkan ke sungai akan kembali lagi. Jadi, walaupun melahirkan sebanyak empat kali atau bahkan lima kali, tembuni nya masih sama. Itulah sebabnya mengapa ketika perempuan yang sedang hamil tersebut mengalami mengidam dan muntah-muntah karena waktu tersebut itulah sedang dimasuki tembuni.
Selamatan tersebut diadakan pula menyembelih seekor ayam kemudian darahnya ditampung lalu dioleskan ke kening ibu dan kepala bayi dengan tujuan pengganti darah ibu saat melahirkan dapat menggantikannya.
94
3. Upacara Nenjrag Bumi (menginjak bumi/tempat tinggal)
Upacara nenjrag bumi ialah memukulkan alu ke bumi sebanyak tujuh kali didekat bayi. Atau bisa juga dengan cara lainnya, yaitu membaringkan bayi tersebut diatas pelupuh (bambu yang dibelah-belah dijadikan lantai), kemudian indung beurang menghentakkan kakinya ke pelupuh di dekat bayi tersebut. Agar bayi tersebut kelak menjadi anak yang tidak mudah terkejut atau takut jika mendengar bunyi yang datang secara tiba-tiba dan menakutkan.
3. Upacara Puput Puseur (lepas tali pusar)
Setelah bayi tersebut lepas tali pusatnya, kemudian segera diadakan selamatan. Ada kepercayaan bahwasannya tali pusat (tali ari-ari) termasuk saudara bayi juga dan harus dipelihara dengan sungguh-sungguh. Adapun saudara bayi yang tiganya lagi ialah tembuni, pembungkus, dan kakawah. Tali ari-ari, tembuni, pembungkus, dan kakawah tersebut biasa disebut dulur opat kalima pancer, yaitu empat bersaudara dan bayi tersebutlah yang menjadi pusatnya.
Setelah tali pusat terlepas dari bayi tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam kanjut kundang oleh indung beurang dan menyiapkan uang logam (uang benggol) yang ditutupi dengan kain yang bersih dan diletakkan pada pusat bayi tersebut dengan tujuan agar pusat tersebut tidak dosol atau menonjol keluar. Selain dari upacara puput puseur, dibarengkan dengan pemberian nama terhadap bayi tersebut lalu diakhiri dengan membagikan bubur merah dan bubur putih.
4. Upacara Ekah (memotong hewan ternak)
Upacara ekah ialah upacara menebus jiwa anak sebagai tanda terima kasih telah dikaruniai anak oleh Tuhan semoga kelak anak tersebut menjadi seorang yang shaleh dan shalehah, dapat menolong kedua orang tuanya diakherat. Upacara ekah diselenggarakan
95
setelah bayi berusia tujuh hari atau empat belas hari, namun jika belum mampu melaksanakan dikedua tanggal tersebut bisa juga setelah bayi berusia dua puluh satu hari atau kelipatannya. Dalam upacara ekah tersebut diadakan pemotongan hewan ternak, bisa kambing atau domba. Banyaknya jumlah kambing yang disembelih tergantung dari jenis kelamin anak tersebut, apabila anak tersebut berjenis kelamin laki-laki, maka banyak hewan kambing yang akan disembelih tersebut dua ekor, namun apabila anak tersebut berjenis kelamin perempuan, maka hanya satu ekor saja yang akan disembelih. Ada kepercayaan ajengan yang menyembelih hewan ternak untuk ekah dapat melihat beberapa gejala atau tanggara (tanda- tanda) tentang kehidupan bayi selanjutnya. Misalnya, terlihat tanda bayi tersebut akan tinggi derajatnya, akan menjadi orang yang berilmu, akan menjadi orang alim, dan sebagainya. Hasil dari pemotongan hewan ternak tersebut kemudian dimasak dan dibagikan kepada fakir miskin dan sebagian untuk kerabat dan keluarga.
5. Upcara Nurunkeun (menurunkan bayi ke halaman rumah)
Upacara nurunkeun ialah upacara pertama kali bayi dibawa ke halaman rumah. Makusdnya, agar keadaan sekitar rumah dikenal oleh sang bayi sebagai pemberitahuan kepada tetangga bahwa sang bayi sudah dapat digendong dibawa berjalan-jalan dihalaman rumah. Malam hari sebelum upacara nurunkeun dilaksanakan, bayi dijaga oleh orang tua perempuan yang bergantian untuk memangkunya, itu dilakukan dengan tujuan untuk menjaga bayi dari gangguan hal-hal yang tidak diinginkan.
Keesokan harinya, bayi pada saat akan memulai prosesi tersebut, bayi digendong dengan selendang oleh indung beurang yang memegang kanjut kundang dan pisau kecil tersebut turun kehalaman dan dipayungi beriringan dengan orang tua perempuan dan laki-laki mengelilingi kebon alas sebanyak tujuh kali lalu kemudian memberikan tanda silang diatas tanah dan mengambil sedikit bagian tanah yang ditandai untuk dimasukkan ke dalam kanjut kundang dan menyawer bayi dengan tembang-tembang seperti pengantin tujuannya adalah
96
menebar nasehat. Setelah selesai disawer, barulah bayi tersebut dibawa masuk ke dalam rumah dan pada waktu itu juga anak-anak ramai berebutan mengambil makanan yang bergantungan di kebon alas.
6. Upacara Opat Puluh Dinten (empat puluh hari)
Upacara opat puluh dinten merupakan upacara penyerahan oleh indung beurang kepada ayah bayi. Setelah opat puluh dinten sejak melahirkan, perempuan tersebut oleh indung beurang diserahkan kepada suaminya karena ibu dari bayi tersebut sudah seperti sedia kala lagi dan apa yang hendak diperbuat oleh suaminya tidak akan dikhawatirkan. Dari melahirkan sampai opat puluh dinten bayi tersebut diurus oleh indung beurang dan ketika ibu bayi tersebut setelah tiga hari atau tujuh hari waktu melahirkan mulailah diurut (dipijat) oleh indung beurang. Urutan atau pijatan yang pertama dinamakan ngurut ngiabkeun. Urutan tersebut berfungsi sebagai pembuang segala macam penyakit, seperti; pegal, sakit tulang, dan sebagainya. Kira-kira tujuh hari setelah dipijat pertama, ibu bayi dipijat kembali untuk yang kedua. Pijatan yang kedua dinamakan ngurut netepkeun, yang berfungsi utntuk mendudukkan rahim ke tempat semula dan untuk pijatan yang terakhir ialah pada hari keempat puluh. Pijatan yang terakhir dinamakan ngurut ngarekepkeun yang fungsinya adalah untuk merapatkan bagian kewanitaan. Setelah opat puluh dinten tersebut, ibu bayi yang masih menjadi tanggung Jawab indung beurang kemudian diserahkan kepada suaminya.
7. Upacara Cukuran (mencukur rambut)
Upacara cukuran adalah salah satu diantara upacara dalam masa bayi yang sangat penting. Upacara tersebut ialah diselenggarakan dengan fungsi untuk membersihkan dan menyucikan rambut bayi tersebut. Upacara cukuran diselenggarakan ketika bayi tersebut antara setelah puput puseur sampai opat puluh dinten. Sebelum dimulainya upacara cukuran diawali dengan pembacaan ijab oleh ayah atau bisa juga kakek bayi tersebut akan
97
dilaksanakan upacara cukuran rambut bayi. Setelah selesai membacakan ijab, bayi berbaring diatas pembaringan yang terletak ditengah-tengah tamu undangan dengan dilapisi tujuh helai kain batik dan pada atasnya dihiasi pohon pisang yang penuh dengan benda mainan yang menarik perhatian anak-anak, seperti balon, burung-burungan, dan sebagainya. Setelah itu barulah dimulai dibacakan doa-doa dan membaca barzanzi atau bisa juga menyebutnya marhaba yang artinya pupujian, yaitu memuji sifat-sifat Nabi Muhammad saw dan kata-kata yang mengandung makna selamat datang.
Orang yang pertama kali menggunting rambut bayi tersebut ialah anjengan kemudian secara bergantian sebanyak enam kali orang yang dianggap sebagai sesepuh untuk menggunting selanjutnya. Setiap akan menggunting rambut bayi ujung gunting harus dicelupkan terlebih dahulu ke air dalam bokor dengan tujuan rambut yang menempel pada gunting tertinggal di dalam air. Setelah tujuh orang selesai mengguting rambut bayi kemudian anjengan membacakan doa lalu selesailah upacara cukuran tersebut. Adapun rambut bayi tersebut dibuang ke sungai ada juga yang menimbang rambut tersebut dengan emas kemudian hasil uang dari penghitungan rambut dengan emas tersebut dibagikan kepada fakir miskin. Adapun uang dan perhiasan dari emas tersebut melambangkan kekayaan yang harus dicapai oleh anak itu ketika dewasa.
8. Upacara Turun Taneuh (turun ke tanah)
Upacara turun taneuh ialah upacara pertama kali bayi menjejakkan kakinya ke tanah. Acara ini berfungsi untuk mengetahui akan menjadi apakah anak itu ketika dewasa. Upacara turun taneuh di kebon alas berserta keluarga dan kerabat dekat, pertama-tama bayi diinjak- injakkan kakinya oleh indung beurang ke makanan-makanan yang telah disediakan yang setiap ikon makanan tersebut memiliki maknanya tersendiri. Dalam pelaksanaan upacara tersebut semua orang tua yang hadir mengamati tingkah laku anak tersebut. Mereka
98
memperhatikan barang apa saja yang pertama kali diambil sang bayi. Barang yang diambil pertama oleh bayi tersebut diyakini kelak akan menjadi seperti apa yang diambilnya. Misalnya bayi tersebut mengambil alat musik, maka anak tersebut kelak akan menjadi musikus.
99
Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga
Comments
Post a Comment