Skip to main content

Fungsi Ritual Daur Hidup Masa Kehamilan pada Masyarakat Sunda

Beberapa fungsi dari upacara tersebut berkaitan dengan upacara yang dilaksanakan sebagai alat pendidikan, upacara sebagai sarana untuk berdoa, upacara sebagai sarana pemberitahuan, dan upacara sebagai peringatan (pengingat).


Masa kehamilan dalam adat Suda terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara salamatan tilu bulanan; (2) Upacara salamatan lima bulanan; (3) Upacara tingkeban (mengandung tujuh bulan); (4) Upacara salamatan salapan bulanan; (5) Upacara reuneuh mundingeun (mengandung lebih dari sembilan bulan).


1. Upacara Salamatan Tilu Bulanan (selamatan tiga bulan)

Upacara salamatan tilu bulanan dilakukan sebagai pemberitahuan kepada tetangga-tetangga dan kerabat bahwa perempuan tersebut sudah benar-benar mengandung memiliki maksud lain, yaitu agar yang mengandung dan yang dikandungnya mulus rahayu (mendapat keselamatan). Selain sebagai sarana pemberitahuan, upacara tersebut berisikan doa yang dilantunkan dengan harapan agar dapat menjaga sekaligus memberikan kemudahan bagi sang ibu dan bayinya.


2. Upacara Salamatan Lima Bulanan (selamatan lima bulan)

Upacara salamatan lima bulanan ini sengaja diselenggarkan untuk menyelamati calon bayi yang berada dikandungan dan juga bagi sang ibu yang mengandung telah memasuki usia bulan ke lima kehamilan. Dalam salamatan lima bulanan tersebut berisikan lantunan doa dengan harapan kandungan ibu dari bayi tersebut dapat bertahan, lalu tumbuh dengan baik hingga proses persalinan.

92


3. Upacara Tingkeban (selamatan tujuh bulan)

Upacara tingkeban (upacara mengandung tujuh bulan) disebut juga babarit dilakukan sebagai selamatan usia kandungan menginjak tujuh bulan. Tingkeb artinya tutup yang maksudnya, pemberitahuan sejak upacara itu sampai empat puluh hari setelah melahirkan harus tutup, maksudnya adalah tidak boleh dibuka sebelum waktunya tiba. Jadi, semacam pemberitahuan kepada suami istri tersebut tidak boleh bercampur (tidur bersama) sampai empat puluh hari setelah bayi tersebut lahir.


4. Upacara Salamatan Salapan Bulanan (selamatan sembilan bulan)

Upacara salamatan salapan bulanan diadakan setelah usia kandungan masuki sembilan bulan. Dalam upacara itu dibuat bubur lolos dengan maksud agar mendapat kemudahan pada waktu melahirkan, longgar seperti bubur lolos tersebut. Selain itu, ada juga dalam upacara tersebut menyediakan lampu kecil agar nanti anak yang dilahirkan terang hatinya.


5. Upacara Reuneuh Mundingeun (hamil lebih dari sembilan bulan)

Upacara reuneuh mundingeun, yaitu perempuan yang mengandung lebih dari sembilan bulan, tetapi belum melahirkan, seperti kerbau yang bunting. Upacara ini diselenggarakan agar perempuan yang hamil tua tersebut segera melahirkan.

Masih mengenai upacara reuneuh mundingeun, perlengkapan yang harus disediakan sedikit sekali, yaitu: kolotok (semacam alat yang dapat berbunyi menyerupai genta, yang terbuat dari kayu, yang biasanya dikalungkan pada leher kerbau), cambuk (untuk mencambuk binatang, yang biasanya dibawa oleh anak gembala), dan makanan sekedarnya. Kolotok yang biasa digantungkan pada leher kerbau mengandung makna bahwa perempuan yang hamil

93


tersebut jangan seperti kerbau yang bunting, baru melahirkan jika usia kandungannya sudah menginjak sebelas atau dua belas bulan.

94


Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga


Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)