Skip to main content

Fungsi Ritual Daur Hidup Kematian pada Masyarakat Sunda

Beberapa fungsi dari upacara tersebut berkaitan dengan upacara yang dilaksanakan sebagai alat pendidikan, upacara sebagai sarana untuk berdoa, upacara sebagai sarana pemberitahuan, dan upacara sebagai peringatan (pengingat).

----

Berikut ini adalah pembahasan mengenai istilah-istilah upacara ritual daur hidup manusia pada masyarakat Sunda yang termasuk dalam prosesi upacara kematian.

1. Ngemandian Mayit (memandikan mayat)

Ngemandian mayit merupakan salah satu kewajiban dari runtutan prosesi kematian. Ngemandian mayit disini adalah memandikan mayit tersebut oleh anggota keluarga yang ditinggalkan untuk selama-lamanya dan yang terakhir kalinya memandikannya sebelum dilaksanakan prosesi selanjutnya, yaitu mengkafani. Ngemandian mayit tersebut sama halnya dengan mandi seperti biasanya, hal yang membedakan ialah siapa yang memandikan. Kalau normalnya, manusia mandi dengan melaksanakanya secara mandiri, sedangkan setelah roh

109


meninggalkan raga, maka hal tersebut tidaklah mungkin bisa dilakukan. Orang disekitarnya lah yang akan memandikannya.


2. Ngaboehan (mengkafani mayat)

Ngaboehan juga merupakan salah satu kewajiban dari runtutan prosesi upacara adat kematian. Ngaboehan adalah prosesi mengkafani mayit yang telah dimandikan kemudian dibungkus dengan kain berwarna putih sebelum disolatkan dan dikuburkan.


3. Nyolatkan (menyolatkan mayat)

Nyolatkan juga termasuk dalam prosesi wajib dalam pelaksanaan upacara untuk kematian. Kegiatan nyolatkan disini adalah mendoakan mayit tersebut sebelum akan dikuburkan. Nyolatkan tersebut dilaksanakan sebanyak dua rakaat dengan berjamaah tanpa ada rukuk dan sujut. Maksud dari nyolatkan tersebut adalah mendoakan mayit untuk yang terakhir kalinya sebelum mayit tersebut dikebumikan dan mendoakan mayit tersebut agar diampuni atas segala dosa yang telah dilakukan semalama didunia.


4. Nguburkeun (menguburkan mayat)

Nguburkeun adalah prosesi terakhir perawatan bagi mayit yang mana mayit tersebut dikebumikan diperistirahatan terakhir (dimakamkan). Prosesi nguburkeun ini dilakukan oleh keluarga dan beberapa kerabat yang datang untuk menyaksikan mayit yang terakhir kalinya sebelum dikebumikan.


5. Nyusur Taneuh (kebali ke tanah/mendoakan)

Nyusur taneuh dan tahlilan adalah pembacaa doa dan dzikir kepada Allah SWT agar arwah yang baru meninggal tersebut diampuni segala dosa yang telah diperbuatnya dan

110


diterima amal ibadahnya. Selain itu, mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan tetap tabah dan beriman dalam menghadapi cobaan kematian tersebut.

a) Poena (hari pertama wafatnya)

Tahlilan pada hari pertama sepeninggal mayit tersebut. Biasanya tahlilan hari pertama dan hari seterusnya diadakan dirumah duka dan dilaksanakan pada malam hari.


b) Tiluna (tahlilan tiga hari wafat)

Tahlilan yang diadakan pada hari ketiga sepeninggal mayit yang diadakan dirumah duka dan dilaksanakan pada malam hari.


c) Tujuhna (tahlilan hari ketujuh wafat)

Tahlilan yang diadakan pada hari ketujuh sepeninggal mayit yang diadakan dirumah duka dan dilaksanakan pada malam hari.


d) Matang Puluh (tahlilan hari keempat puluh wafat)

Tahlilan yang diadakan pada hari ke empat puluh sepeninggal mayit yang diadakan dirumah duka dan dilaksanakan pada malam hari.


e) Natus (tahlilan seratus hari wafat)

Tahlilan yang diadakan pada hari ke seratus sepeninggal mayit yang diadakan dirumah duka dan dilaksanakan pada malam hari.


f) Newu (tahlilan seribu hari wafat)

Tahlilan yang diadakan pada seribu hari sepeninggal mayit yang diadakan dirumah duka dan dilaksanakan pada malam hari.

111


g) Mendak Taun (tahlilan satu tahun wafat)

Tahlilan yang diadakan pada satu tahun sepeninggal mayit yang diadakan dirumah duka dan dilaksanakan pada malam hari.

112


Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)