Skip to main content

Filsafat Jawa

Dalam bahasa Jawa, filsafat Jawa adalah ngudi kasampurnan (berusaha mencari kesempurnaan), sedangkan filsafat Barat adalah ngudi kawicaksanan (mencari kebijaksanaan).

Untuk menjelaskan perbedaan antara pemikiran filsafat Barat dan filsafat Jawa, Ciptoprawiro (1986: 14-15) mempergunakan jembatan keledai yaitu abjad dan alfabet. Dalam abjad ABCD yang kini umum dipergunakan, abjad Jawa hanacaraka senantiasa menceritakan sebuah kisah, yaitu kisah Aji Saka yang menggambarkan kedua abdinya yang saling bertengkar, sama kesaktiannya, dan akhirnya menemui ajalnya. Penjelasan cerita sebagai berikut:

54


a. Hanacaraka        : ada utusan

b. Datasawal         : saling bertengkar

c. Padhajayanya : sama kesakiannya

d. Magabathanga : meninggal semua

Uraian tentang pemikiran filsafat, baik dalam ngudi kasampurnan maupun dalam ngudi kawicaksanan mempergunakan lima huruf pertama dalam abjad Jawa, yaitu hanacaraka.

a. Ha     : hurip, urip = hidup. Suatu sifat zat Yang Maha Esa.

b. Na             : (1) hana = ada

- Ada semesta = ontologi

- Alam semestra = kosmologi

(2) manungsa = manusia = antropologi filsafat


c. Caraka        : (1) Utusan

(2) Tulisan:

- Ca: cipta = pikir = nalar—akal (thinking)

- Ra: rasa = perasaan (feeling)

- Ka: karsa = kehendak (willing)


Manusia adalah utusan Tuhan dan merupakan tulisannya dalam bentuk kodrat kemampuannya: Cipta Rasa Karsa. Hanacaraka merupakan suatu kesatuan, ada semesta, Yang Mutlak, Yang Esa, Tuhan dengan Alam Semesta dan manusia merupakan suatu kesatuan, seperti rumusan Romo Zoetmulder kesatuan kosmos dan saling berhubungan semua di dalamya. Dalam filsafat Jawa dapat dinyatakan bahwa manusia itu selalu berada dalam hubunan dengan lingkungannya, yaitu Tuhan dan Alam Semest serta menyadari kesatuannya. Maka, bagi filsafat

55


Jawa, manusia adalah: manusia--dalam--hubungan, demikian dalam mempergunakan kodrat kemampuannya selalu diusahakan kesatuan cipta-rasa-karsa.

Berbeda dengan filsafat Barat, di mana cipta dilepaskan dari hubungan dengan lingkungannya, sehingga terjadi jarak antara manusia dengan lingkungannya. Kebudayaan Barat mengidentifikasi aku (ego) manusia dengan ciptanya (rasio, akal). Maka, dapatlah dikatakan bahwa filsafat Barat menggambarkan manusia sebagai: manusia—lepas—hubungan. Bilamana Socrates menyebut manusia sebagai animal rationale, filsafat Timur umumnya beranggapan bahwa di dalam diri mauia terdapat sifat-sifat illahi.

56


Sutrisna Wibawa. Tt. Filsafat Jawa. Tt. [UNY]



Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)