Ciptoprawiro (1986:15) menjelaskan di dalam filsafat Jawa dapat dinyatakan bahwa manusia itu selalu berada dalam hubungan dengan lingkungannya, yaitu Tuhan dan alam semesta serta meyakini kesatuannya. Manusia menurut filsafat Jawa adalah: manusia-dalam-hubungan. Manusia dalam mempergunakan kodrat kemampuannya selalu diusahakan kesatuan cipta-rasa- karsa. Ciptoprawiro (1986:21) juga menegaskan bahwa berfilsafat dalam arti luas, di dalam kebudayaan Jawa berarti ngudi kasampurnan. Manusia mencurahkan seluruh eksistensinya, baik jasmani maupun rohani, untuk mencapai tujua itu. Usaha tersebut merupakan suatu kesatuan, suatu kebualatan. Filsafat pada dasarnya tidak didapatkan pembedaan bidang metafisika— epistemologi--etika, yang masing-masing berdiri sendiri. Ketiga bidang ini hanya merupakan segi tak terpisahkan dalam kesatuan gerak usaha manusia menuju kesempurnaan.
Bakker (1992:59) menyatakan bahwa dalam filsafat Indonesia kejawen, Tuhan dan ciptaan itu ya sama, ya berbeda. Tuhan itu baik transenden dengan total (tan kena kinayangapa) dan imanen secara total (pamoring kawula Gusti). Susunan sifat-sifat manusia dan alam dikuasai klasifikasi, dengan dua ciri, pertama, segala bidang kenyataan digolongkan menjadi lima unsur asasi, empat yang padu dalam yang kelima (moncopat, kala mudheng, pancasuda). Prototipe adalah dunia bersudut empat dengan satu pusat (papat keblat, kalima pancer), menurut urutan selatan, barat, utara, timur, pusat, hari-hari digolongkan legi, paing, pon, wage, kliwon. Demikian juga terkait dengan warna-warna, dengan pohon-pohon, dengan sifat-sifat manusia, dan sebagainya. Kelima unsur di bidang yang satu masing-masing memiliki parner pada setiap bidang lain (kiblat angin, warna, dan sifat), dan di antara partner-partner dari bidang-bidang yang berbeda-beda itu terdapat kesatuan, bahkan identitas baku, sehingga mereka dapat ditukarkan
57
satu sama lain (warna tertentu dengan pohon tertentu, atau dengan sifat tertentu). Partner-partner dalam setiap persahabatan harus selaras satu sama lain, mewujudkan kohesi dan harmoni. Kedua, antara manusia (buana kecil atau mikrokosmos) dan alam (buana besar atau makrokosmos) ada keselarasan progresif, tetapi bukanlah identitas. Tatanan abadi dipartisipasikan oleh manusia (homologi dan antropokosmis).
Filosofi Jawa tentang kesempurnaan hidup atau ngudi kasampurnan dan asal dan arahnya yang ada atau ngelmu sangkan paraning dumadi dapat dilihat dalam Serat Centhini yang tercermin melalui tokoh utama Seh Amongraga (Wibawa, 2013:52-56). Nilai filosofis kesempurnaan hidup antara lain ditunjukkan oleh Seh Amongraga saat berdiskusi dengan Ki Bayi Panurta. Serat Centhini jilid V, Seh Amongraga menjelaskan kepada Ki Bayi tentang ilmu jisim jriyah kariyah, yaitu ilmu yang ada dalam semuanya. Jisim itu ada di dalam oral. Segala makhluk hidup itu sesungguhnya tidak mempunyai kekuasaan, seperti sampah dalam lautan tidak mungkin berharap menyatu. Gusti tetaplah Gusti, hamba tetaplah hamba, tidak bisa saling berganti.
Manusia percaya bahwa Hyang Agung tanpa arah tanpa tempat, tanpa bau warna tanpa rasa. Tanpa tempat tetapi bertempat yang tidak diketahui. Itulah mukmin, berkumpulnya ada dan tiada. Seh Amongraga menjelaskan tentang ―curiga manjing warangka‖ dan ―warangka manjing curiga‖. Itu adalah perlambang suksma masuk ke badan dan badan masuk ke suksma, itu adalah kesejatian shalat. Pada saat takbiratul ihram, di situlah menyatunya sukma ke badan dan badan ke sukma. Saat itulah menyatunya kehendak. Sebagai pintu masuk ke hati sanubari, dibuka dengan ikhram, mirat, munajad, tubadil, lestari maksudnya. Sukma ke badan. Dalam hal masuknya badan ke sukma, yaitu apabila sudah khusni dalam ikramnya shalat. Kusta daim ismu
58
alim, lestari masuknya badan ke sukma. Sukma sudah bisa dikuasai oleh karena badan dapat memenuhi tuntutan sukma.
Cahaya malaikat adalah sinar penglihatan sejati. Malaikat itu gaib, meliputi segala rupa. Hanya segala yang dihendakai dari Hyang Agung yang bersifat bijaksana saja yang dihendaki. Cahaya malaikat itu hidayah sejati. Tanda-tanda nabi adalah pada zat yang mengeluarkan keramat. Tanda-tanda mukmin ialah pada afngal yang mengeluarkan mangunah yang meliputi tiga tingkat. Raja zaman nabi, mendapat anugerah Hyang Agung cahaya nurbuat, mulia dunia akhirat. Raja zaman wali diberi anugrah Hyang Widi berupa wahyu cahaya hidayat, diberikan rahmat pada akhir. Raja zaman mukminun diberi anugrah Hyang Wahyu lailatul qadri. Kemukminan pasti diberikan rahmat keduniaan (Marsono-V, 2005: 135-137).
Nilai kesempunaan hidup yang lain tercermin dalam wejangan Seh Amongraga tentang sepuluh pedoman hidup yang menjadi patokan dalam kehidupan. Pertama, syahadat dalam kaitan ini adalah rusaknya ilmu kebenaran karena tindakannya tidak sesuai dengan Nabi dan agama Rasullulah. Kedua, takyun yaitu menyatakan bahwa hal-hal yang baiklah yang mendapat perhatian khusus. Ketiga, sebab kematian adalah bahwa asal kematian yang akan mendatangi kita adalah akhir dari asal dan tujuan. Keempat adalah iman, yaitu hanya penerimaannya artinya penerimaan kekal, tidak ada kekhawatiran hati, hanya memusatkan diri kepasa Tuhan. Kelima adalah pana, yaitu bersyukur kepada tauhid yang berarti tekad yang teguh. Keenam adalah amal, yaitu keikhlasan. Ketujuh adalah niat, yaitu kemauan yang tiada henti-hentinya. Kedelapan adalah shalat karena Allah, artinya disertai dengan Lah ‗karena Allah‘ ialah tanpa rasa susah, karena yang menyebabkan rusaknya shalat adalah kesusahan hati. Kesembilan adalah surga, yaitu mengikuti ajaran dengan penuh keyakinan, artinya syariat, dalil, hadis, dan ijmak.
59
Kesepuluh adalah neraka, yaitu tidak mengikuti rasul, artinya tidak menurut akhlak (Marsono- VII, 200: 84-85).
Ilmu kesempurnaan hidup dapat dilihat juga melalui wejangan Seh Amongraga kepada istrinya yang berlangsung pada masa empat puluh delapan hari empat puluh delapan malam. Wejangan dimulai dari apa yang diperlukan dalam hidup, yaitu ngelmu yang muktamad (dapat dipercaya). Ngelmu dan nafkah sama pentingnya. Seorang istri diwajibkan untuk melaksanakan ajaran agama dengan memenuhi tatanan agama, yaitu syariat, tarekat, hakikat dan makrifat. Wejangan berikutnya adalah tentang membaca Alquran harus benar dalam ucapan; hakikat ilmu bahwa seseorang wajib ahli dalam ilmu; ajaran puji sejati yang dimaknai suci bersinar dalam kehendak sendiri; ajaran amal orang hidup ada empat, yaitu melaksanakan amal yang perlu, melaksanakan amal yang wajib yaitu memuji kepada Allah, beramal hakikat Iman, dan melakukan amal hidup yang sempurna dengan bersyukur kepada Tuhan dan tidak mempersekutukan Tuhan. Wejangan tatanan agama berupa syariat, tarekat, hakikat dan makrifat dinyatakan juga oleh Ciptoprawiro (1986:28) bahwa para wali pada zaman Demak lebih menekankan ke-Esa-an Tuhan dengan nama Allah. Zaman Demak ini juga didapatkan istilah manunggaling kawula Gusti berkat sifat demokratis Islam dan isi Sahadad, yang juga menyebut Muhammad sebagai hamba, abdi, atau kawula. Gerak kembali manusia kepada Allah digambarkan dalam empat tingkat, yaitu syariat berupa hukum menjalankan rukun Islam, tarikat merupakan jalan menuju Allah, hakikat merupakan kebenaran, dan makrifat merupakan pengetahuan dan manunggal.
Ilmu kesempurnaan hidup yang lain ditunjukkan oleh Seh Amongraga bahwa pelaksanaan ilmu Tuhan dalam hidup ada empat hal, yaitu syariat, tarekat, makrifat, dan hakikat wirid. Syariat wirid dalam menyebut kalimat Lailaha ilallah mengikuti panjang keluarnya nafas.
60
Tidak ada Tuhan kecuali Allah yang menjadikan semuanya. Tarekat wirid adalah lafal ilallah, ilallah menurut nafas yang keluar masuk, bunyi makna hati, percaya kepada Tuhan. Makrifat wirid ialah lafal hu, hu, hu menurut nafas yang keluar dari hidung, dalam hati menyebut Tuhan itu abadi. Hakikat wirid adalah lafal Allah, lafal Allah mengikuti keluar masuk nafas, bunyi makna hati, percaya kepada Allah. Syariat wirid satariyah dalam shalat menutupi telinga, mata, dan hidung. Tarekat wirid isbandiyah dalam shalat menutup hidung, mata, dan mulut. Makrifat wirid yaitu jalallah, menutup mata, telinga, dan mulut dan hanya membuka hidung. Hakikat wirid barzah, shalat daim, menutup mulut, hidung, dan telinga. Selanjutnya Seh Amongraga menjelaskan tentang zat, sifat, asma, dan af al, serta wujud, ilmu, nur, dan suhud. Zat itu satu tidak mungkin mendua. Sifat tentang keindahannya yang tidak mungkin dibandingkan. Asma ialah abadi, sedangkan af al itu pasti. Wujud adalah adanya kita ini dan adanya Tuhan. Ilmu ialah ilmu yang sesungguhnya tahu tentang sifat Tuhan. Nur adalah hidup kita karena asma Allah. Suhud adalah kenyataan mati kita karena af al Allah. Dengan demikian, wujud kita adalah zat Allah, ilmu kita sifat Allah, nur kita asma Allah, dan suhud kita af al Allah. Orang yang diberi pahala adalah orang yang mengagungkan Tuhan, sedangkan orang yang disiksa adalah orang yang menganggap Tuhan tidak Maha Kuasa (Marsono-VI, 2005: 116-118).
61
Sutrisna Wibawa. Tt. Filsafat Jawa. Tt. [UNY]
Comments
Post a Comment