Filsafat Jawa tidak bisa dilepaskan dari filsafat moral Jawa yang telah diteliti oleh Magnis-Suseno (1983:108-110), antara lain disimpulkan etika norma-norma Jawa hanya berlaku secara relatif, norma-norma itu memang berlaku, tetapi tidak mutlak. Tidak satu pun norma-
65
norma moral Jawa boleh dipegang secara mati-matian, tidak satu norma pun dapat memberi orang hak untuk melibatkan diri secara seratus persen. Masyarakat Jawa mengembangkan daya ikat norma-norma moral agar menemukan batasnya pada prinsip kerukunan. Siapa yang berdasarkan norma-norma, misalnya keadilan melibatkan diri kepada sesama secara emosional sehingga melampaui batas yang ditentukan oleh kode etika situasinya sendiri, seseorang mengejar sesuatu yang kurang enak. Orang itu berusaha melampaui batas-batasnya sendiri. Norma moral Jawa berada dalam relativitas, seperti ketelitian, keberanian moral, kecondongan untuk berfikir dengan jelas dengan independensi moral. Filsafat moral Jawa mengandung keutamaan-keutamaan moral yang tercermin pada sikap sepi ing pamrih, rame ing gawe, yaitu kesediaan untuk melepaskan diri. Sikap-sikap itu adalah kesabaran, kerelaan untuk menerima segala-galanya untuk melepaskan apa yang dimiliki. Relativitas baik dan buruk tidak lagi mutlak bertentangan satu sama lain, yang jahat, yaitu adanya kehendak yang tidak mengikuti norma- norma moral, tidak dapat dikutuk begitu saja, melainkan harus dianggap sebagai akibat tak terelakkan dari suatu perkembangan rohani yang masih kurang, dan selain itu sebaiknya dianggap sepi saja, mengingat kenyataan bahwa toh setiap orang mengikuti jalan yang sudah ditentukan baginya.
Ciptoprawiro (1986:26) menjelaskan dalam etika Jawa atau filsafat moral, baik buruk dianggap tidak terlepas dari eksistensi manusia yang terjelma di dalam pelbagai keinginan dan dikaitkan dengan empat nafsu: mutmainah, amarah, lauwamah, dan supiah. Keinginan baik (mutmainah) akan selalu berhadapan dengan keinginan buruk (amarah-lauwamah-supiah) untuk menjelmakan perilaku manusia. Asumsi tujuan hidup manusia adalah kasampurnan, akan terjelma sifat Illahi dengan tercapainya manunggaling kawula Gusti, maka pertentangan baik buruk akan diatasi dengan peningkatan kesadaran, yang juga disebut kadewasan jiwa,
66
kedewasaan jiwa manusia. Kesusilaan tidak lepas dari laku dalam perjalanan menuju kesempurnaan. Tingkat kedewasaan manusia akan membentuk watak yang menentukan laku susilanya. Hal ini digambarkan dalam simbolik wayang dengan watak-watak pendeta, pandhita- ratu, satria, diyu, dan cendhala. Tingkat kedewasaan dan watak manusia tidak hanya dapat diperoleh dengan usaha sendiri sewaku hidupnya, melainkan juga diperoleh sejak lahirnya.
67
Sutrisna Wibawa. Tt. Filsafat Jawa. Tt. [UNY]
Comments
Post a Comment