Skip to main content

Etika Jawa, Keharmonisan dan Keselarasan

Etika menurut Franz Magnis Suseno (2001:6) merupakan ilmu atau refleksi sistematik mengenai pendapatpendapat, norma-norma, dan istilahistilah moral. 

Secara lebih luas, kata etika sebagai “keseluruhan norma dan penilaian yang dipergunakan oleh masyarakat yang bersangkutan untuk mengetahui bagai-mana manusia seharusnya menjalankan kehidupannya”. Diuraikan bagaimana harus membawa diri, sikap-sikap, tindakan mana yang seharusnya dikembangkan agar hidup sebagai manusia berhasil. 

Maksud kata “berhasil” dijelaskan secara terperinci yaitu kenikmatan sebanyak-banyaknya, pengakuan oleh masyarakat, pemenuhan kehendak Tuhan, kebahagiaan, kesesuai dengan tuntutan-tuntutan kewajiban mutlak, dan sebagainya. 

Berdasarkan teori Etika Jawa yang dikemukakan oleh Franz Magnis Suseno (2001), etika Jawa dalam cerita Panji erat kaitannya dengan keselarasan, karena etika Jawa merupakan ajaran hidup yang umum dipakai dan berlaku di masyarakat Jawa. Etika Jawa yang berlangsung di masyarakat sangat erat kaitannya dengan tradisi, adat istiadat, pandangan hidup, nilai-nilai filsafat. 

Dalam kehidupan pastilah tidak selalu berjalan dengan lancar, akanada konflik yang mewarnai kehdupan manusia. Menurut pandangan tradisional, adanya konflik pasti akan menimbulkan konflik yang lebih besar sehingga perlu dicegah bahkan dihindari agar tercipta kedamaian dan selaras. 

Keharmonisan, keselarasan dalam setiap dimensi kehidupan akan dijelaskan dalam etika Jawa. Etika Jawa yang dibicarakan Franz Magnis pada hakikatnya mencari keselarasan dengan konsep yang memuat dua tuntunan dasar yaitu prinsip rukun dan prinsip hormat. Kedua prinsip tersebut dikaji berdasarkan cerita Panji yang secara sederhana, apabila ditarik garis merahnya mengisahkan lika-liku pengembaraan seseorang.


Setyoningrum, Indri.dkk. Etika Jawa dalam Cerita Panji. Prosiding SAGA – ISBN : 978-602-17348-7-2. Hlm 59-69



Pustaka: 

Suseno, Franz Magnis. 2001. Etika Jawa (Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 


Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)