Skip to main content

Definisi Cerita Panji

Cerita Panji menjadi salah satu cerita sentral dalam masyarakat Jawa. Cerita Panji dan cerita rakyat pada umumnya diciptakan sebagai penjaga norma termasuk etika. Hal ini disebabkan cerita rakyat merupakan representasi nilai positif yang ada di masyarakat (Grosu, 2014).


Cerita Panji sendiri memilki keistimewaan dan daya tarik yang memikat masyarakat pada umumnya. 


1. Banyak kisah yang dilahirkan dari cerita Panji yang sudah tidak asing didengar seperti dongeng Timun Mas, Ande-ande Lumut, Panji Laras, Keong Mas, Golek Kencana dan dongeng lainnya. 

2. Cerita Panji merupakan budaya popular yang didokumentasikan dalam berbagai karya yaitu naskah kuno, relief, tradisi lisan, sastra tulis, lukisan, dan seni pertunjukan. 

3. Cerita Panji bukan hanya bercerita mengenai kisah percintaan belaka antara Panji dengan Dewi Sekartaji, namun mengisahkan upaya pencarian yang dilakukan dengan usaha keras dan sungguh-sungguh meskipun penuh halangan rintangan, serta mengajarkan perihal kesetiaan. 


Varian-varian cerita Panji inilah yang membuat perkembangannya meluas dan diterima oleh berbagai kalangan. 


Cerita Panji tidak hanya berhenti pada naskah namun berkembang sebagai cerita anak-anak yang disukai dan sirat akan makna sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar dengan pengembangan kompetensi pendidikan karakter yang beragam. 


Cerita Panji dianalisis dengan etika Jawa sekarang, jadi salah satu upaya pelestarian cerira rakyat dengan memanfaatkan kearifan lokal. 

Cerita Panji dapat dijadikan jendela dalam melihat dan memandang kondisi budaya pada perkembangan zaman antargenerasi. Seperti halnya kehidupan sekarang, di masa transformasi, masyarakat sedang mengalami hantaman modernisasi sehingga diperlukan pandangan-pandangan tentang kajian etika. 


Setyoningrum, Indri.dkk. Etika Jawa dalam Cerita Panji. Prosiding SAGA – ISBN : 978-602-17348-7-2. Hlm 59-69


Pustaka:

Grosu, Maria. 2014. “Folklore Archives and  Constructions of the Positivist Paradigm". Philobiblon,Vol. 



Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)