Skip to main content

Cerita Panji dan Etika Jawa

Cerita Panji yang berasal dari tanah Jawa sangat cocok dijadikan dalam memandang etika masyarakat Jawa. Etika berhubungan dengan segala bentuk kegiatan manusia yang senantiasa terikat dengan adanya aturan norma-norma baik dengan agama, pemerintah, maupun aturan adat istiadat, dan tradisi masyarakat bersangkutan. 

Menururt Samuel (2010:143) etika sebagai sarana orientasi dan kebebasan eksistensional yang dipandang sebagai usaha manusia untuk menjawab suatu pertanyaan yang fundamental, serta etika membantu orang agar lebih mampu mempertanggungjawabkan kehidupan, baik dalam berpakaian, berbuat, dan berbahasa. 

Etika merupakan representasi kondisi masyarakat dalam hubungannya dengan manusia yang lain (Popescu, 2011). 

Etika menurut Chaer (2010:6) berkaitan erat dengan norma sosial dan sistem budaya yang berlaku dalam masyarakat. 

Oleh sebab itu, tolak ukur etika berpakaian, berbuat, dan berbahasa antara masyarakat satu dengan masyarakat lain bisa berbeda. 

Karena paradigma setiap orang, bahkan negara dalam menyikapi etika begitu beragam. Meskipun demikian, kesantunan etika memiliki benang merah yang sama, di antaranya dalam etika berbuat yaitu mematuhi aturan, norma, dan kaidah yang berlaku, serta mengerjakan amal ma‟ruf (kebaikan) dan menjauhi yang munkar (keburukan). Etika berbahasa menghargai orang lain, tidak merendahkan, tidak berkata kasar, dan tidak menyinggung perasaan. 

Etika Jawa menurut Fanz Magnis Suseno (2001) yaitu pembahasan tentang pencapaian keselarasandengan tradisiyang penting dan mendasar. Keselarasan hidup bermasyarakat lebih bermakna daripada hidup individual. Selain itu, keselarsan secara menyeluruh dilihat sebagai salah satu cara untuk mencegah konflik. 

Munculnya konflik sering disebabkan adanya perbedaan kepentingan dan keragaman presepsi. Dalam pandangan tradisional, konflik dianggap sebagai sesuatu yang buruk sehingga perlu dicegah dan dihindari. 

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai etika dalam cerita Panji. Etika yang berdasar teori Franz Magnis Suseno sering disebut etika Jawa. Berbagai penelitian yang sesuai dan berkaitan dengan topik juga menjadi banyak perhatian peneliti. 






Setyoningrum, Indri.dkk. Etika Jawa dalam Cerita Panji. Prosiding SAGA – ISBN : 978-602-17348-7-2. Hlm 59-69

 


Pustaka:

Samuel. 2010. “Hilangnya Etika sebagai Sarana Orientasi dan Kebebasan Eksistensional Elit Politik”.Lingua, 5(2), 141-147 ISSN 1693-4725. 

Chaer, Abdul. 2010. Kesantunan Berbahasa. Jakarta: Rineka Cipta. 

Popescu, CrinuĆŁa. 2011. “The Importance of Regional Folklore in Ascertaining Aspects of World View".Geopolitics, history, and international relations. Volume 3(2), 2011, pp. 266–271. 

Suseno, Franz Magnis. 2001. Etika Jawa (Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 



Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)