Peursen terjemahan Dick Hartoko (1988: 10-11) memaknai kebudayaan sebagai berikut:
Kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang dan setiap kelompok orang-orang; berlainan dengan hewan-hewan maka manusia tidak hidup begitu saja di tengah-tengah alam, melainkan selalu mengubah alam itu. Entah dia menggarap ladangnya atau membuat sebuah laboratorium untuk penyelidikan ruang angkasa, entah dia mencuci tangannya atau memikirkan suatu sistem filsafat, pokoknya hidup manusia lain dari hidup dari seekor hewan, ia selalu mengutik-utik lingkungan hidup alamiahnya, dan justu itulah yang kita namakan kebudayaan. Itulah sebabnya tidak terdapat menusia-manusia yang semata-mata terbenam dalam alam sekitarnya. Kebudayaan meliputi segala perbuatan manusia, seperti misalnya cara ia menghayati kematian dan membuat upacara-upacara untuk menyambut peristiwa itu; demikian juga mengenai kelahiran, seksualitas, cara-cara mengolah makanan, sopan santun waktu makan, pertanian, perburuan, cara ia membuat alat-alat, bala pecah, pakaian, cara-cara untuk menghiasi rumah dan badannya. Itu semua termasuk kebudayaan, seperti juga kesenian, ilmu pengetahuan dan agama. Justru dari kehidupan bangsa-bangsa alam itu menjadi kentara, bagaimana pertanian, kesuburan (baik dari ladang, maupun dari wanita), erotik, ekspresi kesenian dan mitos-mitos religius merupakan satu keseluruhan yang tak dapat dibagi-bagi menurut macam-macam kotak. Jadi, menurut pandangan ini ruang lingkup kebudayaan sangat diperluas.
Sutrisno (2008:6-8), dengan bertitik tolak dari pengertian kebudayaan menurut Peursen, menyatakan bahwa kebudayaan dewasa ini difahami sebagai kegiatan produktif dan bukan produksinya. Kebudayaan bukanlah sesuatu yang beku dan jadi, melainkan sesuatu yang senantiasa dalam proses perubahan. Manusia dewasa ini memahami dirinya sebagai suatu proses. Kehidupan sosial politik tidak dapat dianggap sekali jadi dan serba lengkap, melainkan berada dalam proses semakin memungkinkan hidup yang lebih manusiawi. Penemuan-penemuan teknologi dan ilmiah semakin memungkinkan manusia untuk hidup bebas di alam. Konsep dinamis kebudayaan dimaknai sebagai kebudayaan yang lebih dapat difahami dengan tepat. Kebudayaan dalam konteks Indonesia, kebudayaan tidak semata-mata dipandang sebagai warisan leluhur, tetapi juga sesuatu yang sedang diciptakan sekarang ini lewat pembangunan nasional. Kebudayaan bukan hanya kenyataan masa lampau yang dibanggakan, melainkan juga keharusan masa depan yang disusun dalam sebuah strategi kebudayaan.
50
Peursen yang diterjemahan oleh Dick Hartoko (1988:18), kebudayaan itu tergambar dalam tiga tahap, yaitu (1) tahap mitis, (2) tahap ontologis, dan (3) tahap fungsional. Tahap mitis adalah sikap manusia yang merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib di sekitarnya, yaitu kekuasaan dewa-dewa alam raya atau kekuasaan kesuburan, seperti dipentaskan dalam mitologi-mitologi yang dinamakan bangsa-bangsa primitif. Tahap ontologis yaitu sikap manusia yang tidak hidup lagi dalam kepungan kekuasaan mitis, melainkan yang secara bebas ingin meneliti segala hal ikhwal. Manusia mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang dulu dirasakan sebagai kepungan. Manusia mulai menyusun suatu ajaran atau teori mengenai dasar hakikat segala sesuatu (ontologi) dan mengenai segala sesuatu menurut perinciannya. Ontologi berkembang dalam lingkungan-lingkungan kebudayaan kuna yang sangat dipengaruhi oleh fifsafat dan pengetahuan. Tahap fungsional ialah sikap dan alam pikiran yang makin nampak dalam manusia modern, manusia tidak begitu terpesona lagi oleh lingkungannya (sikap mitis), manusia tidak lagi dengan kepala dingin ambil jarak terhadap objek penyelidikannya (sikap ontologis). Manusia ingin mengadakan relasi-relasi baru, suatu kebertautan yang baru terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya. Dalam tahap fungsional nampak dengan jelas bahwa kebudayaan bukanlah semata-mata benda, melainkan sebuah kata kerja, yaitu sesuatu yang menggambarkan cara seorang manusia mengekspresikan diri dengan mencari relasi-relasi yang tepat terhadap dunia sekitarnya.
51
Sutrisna Wibawa. Tt. Filsafat Jawa. Tt. [UNY]
Comments
Post a Comment