Skip to main content

Bahasa Sunda

Bahasa Sunda termasuk rumpun bahasa yang kita sebut Melayu Polinesia. Bahasa ini erat hubungannya dengan bahasa Jawa dan Melayu, terutama dengan yang tersebut pertama dan dipergunakan di seluruh Jawa Barat, yaitu keresidenan Priangan, Cirebon, Jakarta, Banten, dan Karawang yang dahulunya juga merupakan keresidenan tersendiri. Bahasa Sunda ini umum dipergunakan di Jawa Barat, khususnya Priangan, Cirebon Selatan, Bogor bagian Selatan, Karawang bagian Selatan, dan Banten Selatan. Akan tetapi, dipusat tanah Sudanlah (Bandung, Sumedang, Sukapura, Garut, Cianjur, Sukabumi, Bogor) terdapat bahasa Sunda yang paling kaya dan paling sopan, kecuali beberapa kelainan di beberapa tempat di daerah yang luas ini, terdapat beberapa bahasa yang sama. Perbedaan di Jampang dan Banten Selatan, tidaklah mengenai dasar bahasa ini, melainkan terutama terbatas pada kekurangan kata-kata tinggi, sehingga orang didaerah ini tidak membedakan tingkatan bahasa sesuai dengan pangkat, kedudukan, dan umur seperti halnya dipusat tanah Sunda. Terlepas dari hal tersebut, dapat dikatakan bahwa bahasa Sunda tidak mempunyai dialek-dialek, tetapi merupakan satu bahasa saja.

Orang Sunda tidak memiliki huruf sendiri. Mereka mempergunakan huruf Jawa, maupun huruf Arab (disebut juga Jajawan), atau tulisan pegon. Abjad Sunda yang dipinjam dari orang Jawa terdiri atas delapan belas konsonan. Vokal-vokalnya tidak disebut dalam abjad tersebut. Sesuai urutan dalam abjad Sunda, konsonan-konsonan itu jika ditulis dengan huruf latin adalah: h, n, c, r, k, d, t, s, w, l, p, j, y, ny, m, g, b, ng. Huruf-huruf ini semuanya diucapkan dengan bunyi a dibelakangnya, jadi ha, na, ca, dan seterusnya.

18


Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Comments

Popular posts from this blog

Upacara Masa Kanak-Kanak Kalangan Rakyat

Pada golongan rakyat biasa dalam masa kanak-kanak terdapat upacara sebagai berikut: (1) Upacara Gusaran; (2) Upacara Sunatan. Maksud dan tujuan dari dilaksanakannya upacara gusaran adalah meratakan gigi depan anak perempuan agar menjadi lebih cantik dan sebagai isyarat bahwa anak tersebut sudah gadis. Sedangkan upacara sunatan tersebut dilakukan dengan maksud agar lebih bersih dari najis. 26 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Munjungan atau Sungkeman (menghormat kepada orang tua) - Adat Pernikahan di Sunda

Munjungan atau sungkeman merupakan salah satu prosesi dalam upacara adat pernikahan dimana kedua mempelai tersebut melakukan sungkem kepada kedua orang tua baik orang tua dari pihak wanita dan juga pihak lelakinya dengan tujuan untuk memohon doa restu. Kata ‘munjungan’ memiliki kata dasarnya yaitu punjung yang artinya hormat dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi munjungan artinya sama dengan saling mendatangi orang tua untuk bersungkeman meminta 76 doa restu. Sedangkan kan kata ‘sungkeman’ mendapat imbuhan diakhir. Sungkeman memiliki kata dasar yaitu sungkem yang memiliki arti mencium lutut atau kaki orang yang dihormati dan mendapatkan imbuhan diakhir (-an), sehingga kata tersebut berubah bunyi menjadi sungkeman. Prosesi ini merupakan simbol bahwa surga itu ditelapak kaki ibu dan ayah, artinya segala sesuatu harus melalui restu dari kedua orang tua agar tidak menjadi anak yang durhaka. 77 Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi ...

Lasem (dan Japara) sebagai Saujana

Lasem disebut dengan istilah “Saujana”, sebab memiliki gabungan pusaka alam (natural heritage) dan pusaka budaya (cultural heritage). Pada sisi pusaka alam, Lasem memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari laut, pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi. Uniknya, pada masing-masing titik tersebut terdapat kegiatan masyarakat yang aktif. Sementara, pada sisi pusaka budaya, Lasem menyimpannya dalam rentang sejarah yang sangat panjang (Anonim, 2012). Gambar 1. Topografi Lasem Tahun 1887. (Sumber: “Topographische Kaart op Lasem , circa 1887” dalam http://kitlv.nl) 23 Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)