Filsafat Jawa tentang asal dan arahnya yang ada atau ngelmu sangkan paraning dumadi dalam Serat Centhini tercermin dalam wejangan Seh Amongraga tentang asal-usul manusia di dunia. Wejangan Seh Amongraga menyebutkan manusia diciptakan di dunia ini harus tahu asalnya. Barang siapa tahu dirinya, sesungguhnya itu tahu Tuhan. Isi kitab Ihya Ulumuddin menyatakan hendaknya semua manusia berebut ilmu pengetahuan dan wajib untuk mengetahui diri dan mengenal Hyang Suksma. Diceriterakan dalam kitab Ajadulngibat, subkana wa tangala, Hyang Maha Suci menciptakan manusia, akhadiyat dan takyun, tiada beradab tempatnya, wujud warna, bau, dan rasa belum ada di tempatnya tetapi sudah pasti kehadiran-Nya, nukat dan gaib.
Dalam 40 hari, gaibul guyub namanya, alamnya alam lahut, gelap tempatnya, gelap kalbunya. Hadir dalam waktu 40 hari lagi, wahdat kun diam sabda-Nya. Pusat kun dalam uluwiyah masih remang-remang, masih samar-samar dan tidak terang kalbunya. Selanjutnya, 40 ketiga wakidiyat kun ahya,artinya darah baru melekat di tempatnya, gaib uwiyah menunjukkan terangnya kalbu. Keempat, 40 hari selanjutnya adalah alam arwah dan daging barulah melekat. Selanjutnya 40 hari lagi adalah alam ajesan, sudah berwujud tetapi belum jelas. Empat puluh hari yang keenam adalah alam mitsal, saat itulah sudah mulai jelas seluruh tubuhnya, pria wanitanya, namun berhakikat sama. Empat puluh hari yang ke tujuh adalah alam insan kamil, martabat manusianya sudah sempurna dan sudah berpisah jaraknya. Setelah yang sembilan bulan sepuluh hari, sudah jadilah syarat dan sifat manusianya, kemudian ditulislah batas usianya, keuntungan dan kemalangannya, kaya miskin, besar kecil, tinggi pendek, mulus cacat, jelek baik, sudah ada di dalam duryat kebahagiaan dari kodrat Illahi. Setiap manusia ditunggui malaikat yang diberi tugas menunggui di dalam tubuh manusia sampai lahir di dunia. Setelah lahir, manusia dikaruniai alat ucap dan pendengar, penglihat dan pencium, dan dilengkapi pula dengan budi pekerti. Manusia diciptakan melebihi sesamanya, yaitu semua yang diciptakan di dunia. Maka,
63
hendaklah manusia bersyukur kepada Hyang Widi. Hanya manusialah yang banyak kenikmatannya. Oleh karena itu, sebagai manusia harus bertabiat yang baik. Menurut dalil, jangan lalai dalam pengetahuan, jika lalai sesatlah yang akan ditemui (Marsono-VII, 2005: 93- 96).
64
Sutrisna Wibawa. Tt. Filsafat Jawa. Tt. [UNY]
Comments
Post a Comment