Antropologi adalaha ilmu pengetahun yang mempelajari umat manusia sebagai makluk masyarakat. Perhatian ilmu pengetahuan ini ditujukan kepada sifat-sifat khusus badani dan cara-cara produksi, tradisi-tradisi, dan nilai-nilai yang membuat pergaulan hidup yang satu berbeda dari pergaulan hidup lainnya. Jika dilihat dari segi antropologi, manusia dapat ditinjau dari dua segi, yaitu manusia sebagai makhluk biologi dan manusia sebagai mahkluk sosio-budaya.
Antropologi merupakan ilmu yang mempelajari manusia dan kebudayaan secara menyeluruh.
Di satu pihak manusia adalah pencipta kebudayaan, di pihak lain kebudayaan yang menciptakan manusia sesuai dengan lingkungannya. Dengan demikian, terjalin hubungan timbal balik yang sangat erat dan padu antara manusia dan kebudayaan.
Dalam kebudayaan, bahasa menduduki tempat yang unik dan terhormat. Selain sebagai unsur kebudayaan, bahasa juga berfungsi sebagai sarana terpenting dalam pewarisan, pengembangan, dan penyebarluasan kebudayaan.
Bahasa adalah salah satu ciri yang paling khas manusiawi yang membedakannya dari makhluk yang lainnya. Ilmu yang mempelajari hakekat dan ciri-ciri bahasa ini disebut ilmu linguistik.
Istilah sosiolinguistik terdiri atas dua unsur; sosio- dan linguistik. Unsur sosio adalah seakar dengan sosial, yaitu yang berhubungan dengan masyarakat, kelompok-kelompok masyarakat, dan fungsi-fungsi kemasyarakatan. Sedangakan unsur linguistiknya ialah ilmu yang mempelajari atau membicarakan bahasa, khususnya unsur bahasa (fonem,
9
morfem, kata, kalimat) dan hubungan antara unsur itu.
Jadi, sosiolinguistik ialah studi atau pembahasan dari bahasa sehubungan dengan penutur bahasa sebagai anggota masyarakat. Boleh juga dikatakan bahwa sosiolingistik mempelajari dan membahas aspek kemasyarakatan bahasa, khususnya perbedaan yang terdapat dalam bahasa yang berkaitan dengan faktor-faktor kemasyarakatan sosial.
Dalam buku Sign, Language and Behavior (1946), Charles Morris membedakan tiga macam studi bahasa yang dianggapnya sebagai suatu sistem semiotik (perisyaratan), tergantung dari apa yang menjadi pusat perhatian.
Jika yang diperhatikan pada hubungan antara isyarat-isyarat (unsur-unsur bahasa) dengan maknanya, hal tersebut ialah semantik.
Jika perhatian ditumpukan pada hubungan isyarat dengan isyarat, hal tersebut ialah sintaksis atau ahli-ahli bahasa memakai istilah linguistik.
Jika pusat perhatiannya adalah hubungan antara isyarat dengan pemakaiannya (penutur bahasa), hal tersebut ialah ilmu pragmatik atau yang belakangan ini kita menyebutnya sosiolinguistik, khususnya yang mempelajari aspek-aspek sosial dari pemakainya dan aturan pemakaiannya.
Dengan kata lain, sosiolinguistik ialah studi antardisiplin, sebagaimana yang digambarkan oleh unsur-unsur istilah sosio dan linguistik.
Ada pula orang yang memasuki lapangan sosiolinguistik dari lapangan sosiologi, sehingga menyebut studi tersebut sebagai sosiologi bahasa. Umpamanya J.A. Fishman yang mula-mula memakai judul bukunya Sosiolinguistics, (1970) dan kemudian beralih kepada Sociology of Language, (1972). Bidang kajian ilmu sosiolinguistik memiliki arti yang lebih memuaskan dari istilah “masyarakat bahasa”.
Bloomfield (1933, hlm. 29) membatasinya dengan “sekumpulan manusia yang menggunakan sistem isyarat bahasa yang sama”. Hal tersebut dianggap terlalu sempit cakupannya.
Bahasa mencakup hampir semua aktifitas manusia. Hingga akhirnya linguistik memperlihatkan adanya pergerakan menuju kajian yang bersifat multidisiplin, salah satunya adalah antropologi linguistik.
Antropologi linguistik adalah salah satu cabang lingustik yang menelaah hubungan antara bahasa dan budaya terutama untuk mengamati bagaimana bahasa itu digunakan sehari-hari sebagai alat dalam tindakan bermasyarakat. (Launder, 2005, hlm. 231).
Antropologi bisa juga disebut etnolinguistik yang menelaah bahasa bukan hanya dari strukturnya semata, tetapi lebih pada fungsi dan pemakaiannya dalam konteks situasi sosial budaya.
10
Hadiati, Diah Nur. 2016. Bentuk, Makna, dan Fungsi Upacara Ritual Duar Hidup Manusia pada Masyarakat Sunda. Skripsi Prodi Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga
Comments
Post a Comment