Kondisi geografis Lasem secara teoritis berpengaruh pada dinamika yang terjadi di Lasem. Teori ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan beberapa antropolog bahwa determinisme geografis mempengaruhi arah terhadap budaya dan perkembangannya. Kondisi lingkungan mempengaruhi perkembangan budaya. Lokasi, topografi, kondisi tanah, dan iklim menjadi faktor yag menentukan budaya dalam tahap yang sederhana (Vayda dan Rappaport dalam Stanislaus dan D’Souza, 2003:76). Terkait dengan hal tersebut, kondisi geografis Lasem berpengaruh pada pembentukan kebudayaan masyarakatnya. Lasem terletak di dataran rendah yang berdekatan dengan laut. Garis pantai yang sangat mudah untuk diakses menyebabkan banyak pendatang melabuhkan kapal-kapalnya di Lasem.
Wilayah Lasem sisi Utara berupa daerah pesisir, sisi Timur merupakan daerah pegunungan dan bagian tengah bertopografi datar. Lasem seperti halnya kota-kota Pantai Utara Jawa yang di masa lampau pernah mengalami masa kejayaannya. Oleh karena itu, elemen pendukung kota juga dimiliki Lasem yakni sungai (sungai Lasem), pelabuhan yang bisa untuk mendarat kapal-kapal kecil maupun jalan darat yang menghubungkan wilayah tersebut dengan daerah lainnya.
18
Lasem memiliki sungai yang pada masa lalu menjadi urat nadi perdagangan daerah tersebut. Sungai inilah yang menghubungkan daerah pedalaman dengan daerah pesisir. Di tempat tersebut terdapat sebuah pelabuhan yang berfungsi sebagai arena keluar masuk orang dan barang baik dari daerah Lasem dan sekitarnya maupun dari daerah lain (pulau lain) yang akan ke Lasem dan sekitarnya. Sungai Kiringan berada di sisi Barat Laut Lasem dan sungai Lasem yang berada di bagian tengah Kota Lasem. Sungai ini bermuara di Pelabuhan Lasem yang pada masa lalu pernah menjadi tempat pendaratan kapal-kapal dagang.
Pelabuhan-pelabuhan di Lasem dapat digolongkan sebagai bandar atau harbor dan port. Bandar (muara Sungai Kirigan) dan Teluk Bonang-Binangun menempati daerah perairan yang terlindung terhadap gelombang dan angin untuk berlabuhnya kapal-kapal, mengisi bahan bakar, perbaikan atau perawatan kapal. Daerah seperti itu dapat berupa muara sungai dengan kedalaman air yang memadai. Port atau pelabuhan merupakan bandar yang dilengkapi dengan bangunan- bangunan untuk pelayanan muatan seperti dermaga, tambatan kapal, gudang penyimpanan dengan segala keperluannya (Tim Peneliti Balar, 2011:30). Posisinya sebagai kota pelabuhan menjadikan Kota Lasem memiliki heterogenitas dalam komposisi etnis.
19
Dwi Ratna Nurhajarini, dkk. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)
Comments
Post a Comment